Katamu, perasaanku tak ubahnya rumput di padang ilalang Tumbuh subur tanpa perawatan Aku sadar, sepatutnya aku lebih bisa memaknai kehilangan Bak ranting yang ditinggalkan daunnya, seharusnya aku mampu mengikhlaskan kepergian Meski mungkin aku hanya seperti batang, yang coba menopang untuk kemudian kau tebang Seharusnya aku mampu meniru daun, yang jatuh, terinjak, namun tetap menebar manfaat Sepantasnya aku bisa layaknya bunga, yang tak hanya memesona, namun juga berharga Mungkinkah di matamu aku tak ubahnya sebidang tanah gersang? Dan kau bagai cacing yang bahkan tak sanggup bertahan? Perkataanmu sore itu bagaikan angin yang memporakkan hatiku, Bahwa katamu seharusnya aku bisa seperti mentari, sendiri, tapi tetap menyinari Bukan seperti ini Maaf Dan kini, pada akhirnya, aku menyadari, bahwa perasaan ini cukup aku saja yang mengetahui Biarlah kurawat, agar mekar di saat yang tepat, bersama orang yang juga tepat. Lapangan sepak bola, 8 Mei 2015 B...
Malam ini saya dikabari teman ada kajian Ustadz Adi Hidayat di Masjid Salman tapi saya belum berkesempatan hadir jadi cuma nonton live streaming- nya di youtube. Judulnya Doa-doa Dalam Al-Quran dan Sunnah. Ustadz Adi menyampaikan bahwa pengabulan pertama dari doa adalah ketenangan hati. Ketenangan ini bisa muncul bahkan saat solusinya belum nampak, misalnya saat mau ujian dan berdoa minta dimampukan, hal pertama yang akan dirasakan adalah ketenangan. Saat ujian dimulai, hati udah jauh lebih tenang dan bisa menyerahkan semuanya kepada Allah. Kalau kata teman saya, " aku tenang, aku menang ". Kata beliau, ketenangan adalah harta yang gak bisa dibeli dengan uang, tapi bisa kita dapatkan hanya dengan berdoa dan berharap kepada Allah. Ustadz Adi juga membahas surat Maryam tentang betapa Nabi Zakaria tidak pernah berputus asa meminta kepada Allah untuk dikaruniai keturunan bahkan saat beliau sudah sepuh dan istrinya divonis mandul. " Dia (Zakaria) berkata...
Kau bertanya padaku tentang langit. Apakah aku menyukai langit? Tentu saja aku suka. Ia selalu indah dengan gemintangnya, purnamanya, sabitnya, atau dengan bulan setengah lingkarannya. Ia juga selalu menawan dengan warna-warni pelanginya. Bahkan saat siang meraja ia indah dengan biru bertemankan awannya. Dengan warna kemerahannya kala senja menyapa, ia tak pernah kehilangan pesona. Jika aku boleh meminta, untuk satu saja kesempatan, aku ingin mengamati langit, lebih dekat, lebih jelas, seperti yang kaulakukan malam itu, juga pada malam-malam yang tak pernah aku tahu. Aku ingin membaca rasi, pandai menentukan penanggalan, juga mahir menentukan arah mata angin. Tapi aku tak mengerti langit, juga tentang polusi cahaya yang katamu akan mengganggu pengamatan objek astronomis. Aku hanya mampu menikmati indahnya. Lantas, sudikah kau mengajariku tentang langit? Atau menemaniku menikmati langit, suatu saat, melalui satu bingkai jendela. Rumah, 4 Juli 2015
Komentar
Posting Komentar