Kau bertanya padaku tentang langit. Apakah aku menyukai langit? Tentu saja aku suka. Ia selalu indah dengan gemintangnya, purnamanya, sabitnya, atau dengan bulan setengah lingkarannya. Ia juga selalu menawan dengan warna-warni pelanginya. Bahkan saat siang meraja ia indah dengan biru bertemankan awannya. Dengan warna kemerahannya kala senja menyapa, ia tak pernah kehilangan pesona. Jika aku boleh meminta, untuk satu saja kesempatan, aku ingin mengamati langit, lebih dekat, lebih jelas, seperti yang kaulakukan malam itu, juga pada malam-malam yang tak pernah aku tahu. Aku ingin membaca rasi, pandai menentukan penanggalan, juga mahir menentukan arah mata angin. Tapi aku tak mengerti langit, juga tentang polusi cahaya yang katamu akan mengganggu pengamatan objek astronomis. Aku hanya mampu menikmati indahnya. Lantas, sudikah kau mengajariku tentang langit? Atau menemaniku menikmati langit, suatu saat, melalui satu bingkai jendela. Rumah, 4 Juli 2015
Beberapa hari lalu saya dikabari seorang kakak tingkat ada kesempatan menarik untuk pengajuan pendanaan organisasi yang akan saya jalankan satu tahun ke depan. Saya baca pedoman proposalnya baik-baik; banyak sekali hal yang harus didiskusikan dalam penyusunan proposal ini, banyak sekali pihak yang dilibatkan dalam pengambilan keputusan ini. Saya mau coba mulai menulis tapi saya tidak bisa mengambil keputusan sendiri. Saya cuma bertanya beberapa referensi proposal tahun lalu, rekomendasi dosen pembimbing, dll. Kemarin ketua departemen saya sudah mulai pesimis bisa melanjutkan penulisan proposal. Takut keputusan yang diambil terlalu terburu-buru dan tidak terkonsep dengan matang. Batas akhir pengumpulan proposal adalah 3 hari lagi. Tadi siang ketua organisasi saya menawarkan diri untuk membantu menulis proposal. Baru menulis surat rekomendasi dan surat pernyataan kerja sama dengan berbagai pihak, ketua saya akhirnya bilang: "Can, kayaknya ini gak bisa dilanjutin. Deng...
Komentar
Posting Komentar